BAB III
·
PENGERTIAN
KEPUASAN
Kepuasan merupakan tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja (atau hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan
harapannya. Jadi tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja
yang dirasakan dengan harapan. Kepuasan pelanggan sepenuhnya dapat dibedakan
pada tiga taraf , yaitu:
Taraf pertama:
Memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar pelanggan, contoh : Wiraniaga Televisi A
menunjukan jenis TV yang dibutuhkan seseorang pelanggan. Ia menanyakan merek,
berapa ukurannya, kemudian dicoba dan akhirnya dikemas.
Taraf kedua: memenuhi
harapan pelanggan dengan cara yang dapat membuat mereka akan kembali lagi.
Contoh: Wiraniaga Televisi B menunjukan jenis TV yang dibutuhkan seorang pelanggan.
Ia menunjukan juga jenis Televisi apa yang diperlukan (disesuaikan dengan
ruangan dan tempat TV pelanggan), dijelaskan keuntungannya, kemudian di cek dan
dicoba, dikemas pada kemasannya. Dan ditanyakan cara membawanya, apakah akan
diantar atau akan dibawa sendiri TV?
Taraf ketiga:
melakukan lebih daripada apa yang diharapkan pelanggan. Contoh : Wiraniaga
Televisi C (selain seperti Wiraniaga Televisi B), juga dijelaskan berbagai hal
tentang kualitas TV dan perbedaan dari masing-masing jenis TV, jenis kemasan
(vacum atau tidak dan selain itu diberikan alternatif Televisi dari industri
yang lain (TV pipih atau tebal ). Setelah itu dikemas, dan ditanyakan diantar
atau dibawa sendiri, jika dibawa sendiri diserahkan Televisi tersebut sambil
tersenyum serta mengucapkan terima kasih.
Konsumen yang merasa tidak puas akan bereaksi dengan tindakan
yang berbeda. Ada yang mendiamkan saja dan ada pula yang melakukan komplain.
Berkaitan dengan hal ini, ada tiga jenis kategori tanggapan atau komplain
terhadap ketidakpuasan (Singh, 1988), yaitu:
1. Voice response
Kategori ini meliputi
usaha menyampaikan keluhan secara langsung dan/atau meminta ganti rugi kepada
perusahaan yang bersangkutan, maupun kepada distributornya. Bila pelanggan
melakukan hal ini, maka perusahaan masih mungkin memperoleh beberapa manfaat.
Pertama, pelanggan memberikan kesempatan sekali kepada perusahaan untuk
memuaskan mereka. Kedua, resiko publikasi buruk dapat ditekan, baik publisitas
dalam bentuk rekomendasi dari mulut ke mulut, maupun melalui koran/media massa.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah ketiga, memberi masukan mengenai
kekurangan pelayanan yang perlu diperbaiki perusahaan. Melalui perbaikan
(recovery), perusahaan dapat memelihara hubungan baik dan loyalitas
pelanggannya.
2. Private response
Tindakan yang dilakukan
antara lain memperingatkan atau memberitahukan kolega, teman, atau keluarganya
mengenai pengalamannya dengan produk atau perusahaan yang bersangkutan. Umumnya
tindakan ini sering dilakukan dan dampaknya sangat besar bagi citra perusahaan.
3. Third-party response
Tindakan yang dilakukan
meliputi usaha meminta ganti rugi secara hukum; mengadu lewat media massa
(misalnya menulis di Surat Pembaca); atau secara langsung mendatangi lembaga
konsumen, instansi hukum, dan sebagainya. Tindakan seperti ini sangat ditakuti
oleh sebagian besar perusahaan yang tidak memberi pelayanan baik kepada
pelanggannya atau perusahaan yang tidak memiliki prosedur penanganan keluhannya
kepada masyarakat luas, karena secara psikologis lebih memuaskan. Lagipula
mereka yakin akan mendapat tanggapan yang lebih cepat dari perusahaan yang
bersangkutan.
Paling tidak ada empat faktor yang
mempengaruhi apakah seorang konsumen yang tidak puas akan melakukan komplain
atau tidak (Day dalam Engel et al., 1990). Keempat faktor tersebut adalah:
1.
Penting tidaknya konsumsi yang dilakukan, yaitu menyangkut derajat pentingnya
produk bagi konsumen, harga, waktu yang dibutuhkan untuk mengkonsumsi produk,
serta social visibility.
2.
Pengetahuan dan pengalaman, yakni jumlah pembelian sebelumnya, pemahaman akan
produk, persepsi terhadap kemampuan sebagai konsumen, dan pengalaman komplain
sebelumnya.
3. Tingkat kesulitan dalam mendapatkan ganti
rugi, meliputi jangka waktu penyeleseian masalah, gangguan terhadap aktivitas
rutin, dan biaya.
4. Peluang
keberhasilan dalam melakukan komplain.
Faktor yang
sering digunakan dalam mengevaluasi kepuasan terhadap suatu produk manufaktur
(Garvin dalam Lovelock, 1994; Peppard dan Rowland, 1995) antara lain meliputi:
1. Kinerja (performance) karakteristik
operasi pokok dari produk inti (core product) yang dibeli, misalnya kecepatan, konsumsi bahan bakar,
jumlah penumpang yang dapat diangkut, kemudahan dan kenyamanan dalam mengemudi,
dan sebagainya.
2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan
(features), yaitu karakteristik sekunder atau
pelengkap, misalnya kelengkapan interior dan eksterior seperti dash
board, AC, sound system, door lock, power steering, dan sebagainya.
3. Keandalan (reliability), yaitu
kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal
dipakai, misalnya mobil tidak sering macet/rewel/rusak.
4. Kesesuaian dengan spesifikasi
(conformance to specifications), yaitu sejauh mana
karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah
ditetapkan sebelumnya. Misalnya standar keamanan dan emisi terpenuhi, seperti
ukuran as roda untuk truk tentunya harus lebih besar daripada mobil sedan.
5. Daya tahan (durability), berkaitan
dengan berapa lama produk tersebut dapat terus
digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis
penggunaan mobil. Umumnya daya tahan mobil buatan Amerika atau Eropa lebih baik
daripada mobil buatan Jepang.
6. Serviceability, meliputi kecepatan,
kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi serta
penanganan keluhan yang memuaskan. Pelayanan yang diberikan tidak
terbatas hanya sebelum penjualan, tetapi juga sela proses penjualan hingga
purna jual, yang juga mencakup pelayanan reparasi dan ketersediaan komponen
yang dibutuhkan.
7. Estetika, yaitu daya tarik produk
terhadap panca indera, misalnya bentuk fisik mobil
yang menarik, model/desain yang artistik, warna, dan sebagainya.
8. Kualitas yang dipersepsikan
(perceived quality), yaitu citra dan reputasi produk serta
tanggung jawab perusahaan terhadapnya. Biasanya karena kurangnya
pengetahuan pembeli akan atribut/ciriciri produk yang akan dibeli, maka pembeli
mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan, reputasi.
Sementara itu dalam mengevaluasi jasa yang bersifat
intangible, konsumen umumnya menggunakan beberapa atribut atau faktor berikut
(Parasuraman, et al., 1985):
1. Bukti langsung (tangibles), meliputi
fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana
komunikasi.
2. Keandalan (reliability), yakni
kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan
dengan segera, akurat,
dan memuaskan.
3. Daya tanggap (responsiveness), yaitu
keinginan para staf dan karyawan untuk
membantu para pelanggan
dan memberikan pelayanan dengan tanggap.
4. Jaminan (assurance), mencakup
pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan sifat
dapat dipercaya yang
dimiliki para staf; bebas dari bahaya, risiko atau keragu-raguan.
5. Empati, meliputi kemudahan dalam
melakukan hubungan, komunikasi yang baik,
perhatian pribadi, dan memahami
kebutuhan pelanggan.
·
PENGERTIAN
HARAPAN PELANGGAN
Harapan pelanggan
diyakini mempunyai peranan yang besar dalam menentukan kualitas produk (barang
dan jasa) dan kepuasan pelanggan. Pada dasarnya adalah hubungan yang erat
antara penentuan kualitas dan kepuasan pelanggan. Dalam mengevaluasinya,
pelanggan akan menggunakan harapannya sebagai standar atau acuan.
Harapan pelanggan terhadap kualitas suatu jasa terbentuk oleh
beberapa faktor berikut:
1. Enduring Service Intensifiers
Faktor ini merupakan
faktor yang bersifat stabildan
mendorong pelanggan untuk
meningkatkan sensitivitas terhadap jasa. Faktor ini meliputi harapan yang disebabkan
oleh orang lain dan filosofi pribadi seseorang tentang jasa.
2. Personal Needs
Kebutuhan yang dirasakan
seseorang mendasar bagi kesejahteraannya juga sangat menentukan harapannya.
Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan fisik, sosial, dan psikologis.
3. Transitory Service Intensifiers
Faktor ini merupakan
faktor individual yang bersifat sementara (jangka pendek) yang meningkatkan
sensitivitas pelanggan terhadap jasa.
4. Perceived Service Alternativies
Perceived Service Alternatives
merupakan persepsi pelanggan
terhadap tingkat atau derajat pelayanan perusahaan lain yang sejenis.
5. Self-Perceived Service Roles
Faktor ini adalah
persepsi pelanggan tentang tingkat atau derajat keterlibatannya dalam
mempengaruhi jasa yang diterimanya. Jika konsumen terlibat dalam proses
pemberian jasa dan jasa yang terjadi ternyata tidak begitu baik, maka pelanggan
tidak bisa menimpakan kesalahan sepenuhnya pada si pemberi jasa.
6. Situational Factors Faktor
situasional terdiri atas
segala kemungkinan yang bias mempengaruhi kinerja jasa, yang berada diluar
kendali penyedia jasa.
7. Explicit Service Promises
Faktor ini merupakan
pernyataan (secara personal atau non personal) oleh organisasi tentang jasanya
kepada pelanggan.
8. Implicit Service Promises
Faktor ini menyangkut petunjuk
yang berkaitan dengan jasa, yang memberikan kesimpulan bagi pelanggan tentang
jasa yang bagaimana yang seharusnya dan yang akan diberikan.
9. Word of Mouth (Rekomendasi/Saran dari
Orang lain) Word-of-Mouth
merupakan pernyataan
(secara personal atau non personal) yang disampaiakn oleh orang lain selain
organisasi (service provider) kepada pelanggan.
10. Past Experience
Pengalaman masa lampau meliputi
hal-hal yang telah dipelajari atau diketahui pelanggan dari yang pernah
diterimanya di masa lalu.
Mengidentifikasi
4 metode untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu sebagai berikut:
1. Sistem Keluhan dan Saran
Setiap organisasi yang
berorientasi pada pelanggan (customer oriented) perlu memberikan kesempatan
yang luas kepada para pelanggannya untuk menyampaikan saran, pendapat, dan
keluhan mereka.
2. Ghost Shopping
Salah satu cara untuk
memperoleh gambaran mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan mempekerjakan
beberapa orang untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan/pembeli potensial
produk perusahaan dan pesaing.
3. Lost Customer Analysis
Perusahaan sebaiknya
menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau yang telah pindah
pemasok agar dapat memahami mengapa hal itu terjadi dan supaya dapat mengambil
kebijakan perbaikan/penyempurnaan selanjutnya.
4. Survei Kepuasan Pelanggan
banyak penelitian
mengenai kepuasan pelanggan yang dilakukan dengan penelitian survei, baik
survei melalui pos, telepon maupun wawancara pribadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar